“Sesaknya Hidup di Jakarta”, itulah judul yang diturunkan KOMPAS Minggu 24 Oktober 2010. Di rubrik Kehidupan masih ada judul “Berbagi Kemiskinan di Angkutan”. Mungkin itulah potret kehidupan Jakarta saat ini. Laporan KOMPAS ini melengkapi berita-berita di hari sebelumnya yang menyoroti tentang kemacetan di Ibu Kota.
Namanya potret ya tergantung siapa yang mengambil gambar, di mana posisinya, apa kamera yang digunakan, kapan membidiknya, bagaimana situasi saat mengambil gambar, dan lain-lain. Jadinya satu keadaan bisa menghasilkan banyak sekali potret yang berbeda-beda. Sesaknya Jakarta mungkin terlihat jauh lebih dramatis bagi orang yang setiap hari berdesak-desakan di angkutan umum. Tapi tidak cukup jelas bagi orang yang diantar sopir kemana-mana dengan mobil pribadinya.
Bagi saya hidup di Jakarta memang sesak, kemruyuk. Bagi sebagian orang mungkin itu resiko, mungkin tantangan, mungkin keterpaksaan. Tapi setiap orang punya pilihan. Hanya saja pilihannya adalah mau milih macet di mana dan naik apa. Sori kalau sinis.

